Wednesday, February 20, 2008

Hidup dalam kehidupan..

Hidup dalam Kehidupan....

Kalimat ini mungkin terdengar sederhana namun aku merasa berbeda, kalimat ini sungguh kalimat tepat untuk menjawab semua resah, gelisah yang sempat datang menghampiriku. Atau aku sendiri pun sering memberikan saran bagi sahabat yang resah dengan hidupnya yang kadang lepas tak terarah dengan ribuan kata panjang yang mungkin saja sangat sulit dipahami.


Seringkali aku merasa terjebak dalam “hidup” atau “kehidupan” yang aku bangun sendiri, hidup pada duniaku.. dan selalu merasa bahwa aku-lah tokoh utamanya, dan aku-lah yang seharusnya dapat mengukir kisah ini dengan indah. Sehingga mungkin tak ada ruang bagi kesedihan atau kegagalan, karena aku-lah yang seharusnya bisa memenangkan permainan ini. Tapi kehidupan ternyata memang tak selalu seperti apa yang kita bayangkan, tak selalu seperti apa yang kita harapkan, bahkan mungkin lebih dari harapan kita. Jika memang begitu adanya, sungguh Alhamdulillah segala puji bagi Allah SWT. Namun, tak jarang kenyataan begitu jauh dari apa yang kita harapkan.


Lantas apa yang harus aku lakukan?

Aku-pun pernah membaca dalam sebuah buku(aku lupa judul bukunya, namun ada kata-kata yang masih terngiang jelas)..


Tuhan menganugrahi kita..
Ketenangan, untuk menerima hal-hal yang tidak dapat kita ubah
Keberanian, untuk mengubah hal-hal yang dapat kita ubah
Dan Kebajikan untuk mengetahui perbedaannya..


Aku pun ”pernah” berprinsip Lakukan saja yang bisa aku lakukan hari ini untuk masa depan dengan sebaik-baiknya, tanpa putus asa.. Hasil?? Itu adalah hak prerogatif Allah untuk menentukan karena memang Allah SWT yang lebih tahu dan paham apa yang terbaik bagi hambanNya. Allah menilai hambanya dari usaha atau proses, bukan hasilnya. Tertanam sudah dengan kuat pemikiran itu sehingga berubah menjadi pemahaman yang mengakar dalam tiap tindakan. Hal ini cukup membantuku dalam menjalani kehidupan sebagai sesuatu yang harus dihadapi dan diusahakan dengan sebaik-baiknya. Kadang aku sering tidak peduli dengan hasilnya karena menganggap itu diluar jangkauanku. Dan aku terus melangkah untuk melakukan apa yang bisa aku lakukan.


Dan itulah yang membuatku lupa bahwa aku tidak hanya hidup dalam kehidupanku namun aku hidup dalam kehidupan. Aku hidup ditengah-tengah ribuan orang yang juga menjalani kehidupannya. Kadang memang aku menjalani peranku sebagai seorang tokoh utama dalam kehidupanku sendiri namun kadang aku harus dapat menerima bahwa aku adalah pemeran figuran bagi kehidupan orang lain. Aku harus hidup dalam kehidupan. Aku harus merelakan diriku menjadi seseorang yang tidak penting, dalam kesedihan, kekalahan, keterpurukan, karena disana ada seseorang yang telah mengukir kisah bahagianya dari semua kejadian-kejadian buruk dalam hidupku.


Bila aku terus melangkah mungkin aku akan merasa bahwa hidup hanya bagaikan air yang mengalir, yang harus selalu begitu, just do the best.. do the best and do the best.. tapi, ternyata.. hidup itu sungguh luas, itulah mengapa mereka selalu berkata hidup itu berwarna, karena kita hidup dalam kehidupan..


SEMANGAT! SEMANGAT!

( itulah alasannya kita tidak boleh bersedih atas kegagalan, selama kita telah melakukan prosedur usaha dengan baik dan benar Insyaallah kemenangan itu didepan mata namun, bila Yang Memiliki Hidup berkehendak lain, mengapa harus bersedih? Paling tidak kita harus berdamai dengan hati kita, tenang dalam menerima sesuatu yang tidak dapat kita ubah. Yakinlah saat itu kita telah menjadi bagian dari kehidupan orang lain. Kita menjadi bagian dari kebahagiaan orang lain. Bukankah cukup menyenangkan? (^_^) )


Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang ada di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daunpun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya, dan tidak jatuh sebutir bijipun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau kering melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh) -QS-Al An’am (6) : 59-


Sepenggal pelajaran yang didapat Hari minggu, 17 Februari 2008, 09.00-17.30 di kamar kos, perbincangan dengan seorang sahabat Rifatia Dwi Arini ( teteh) tentang kehidupan ditemani sekotak bakpia hangat yang dibawa teteh. Senang rasanya mengetahui sahabat bahagia dan bisa berdamai dengan hatinya, melanjutkan kehidupan dengan harapan bahkan kini memberiku satu pelajaran berharga.. -Hidup dalam kehidupan-

Hari itu teteh sedang menikmati hobi barunya sebagai seorang fotografer yang malu-malu n amatiran yang siap menjadi fotografer kelas hiu yang layak diperhitungkan. Hehe..

SeMangaT yaa Teh arin..!

(Semoga Allah SWT selalu menjaga persahabatan ini dengan kebaikan cinta dan ketulusan untuk menjalani kehidupan sebagai seorang hamba)